Rabu, 09 Juni 2021

Abah Habib Luthfi : Nasehat untuk Suami dalam membangun rumah tangga - PPSA News & Media

Nasehat untuk Suami dalam membangun rumah tangga



Pesan saya, pertama, janganlah kita melihat keatas, tapi lihatlah kebawah. Dalam arti, kita melihat orang-orang sesama kita yang kehidupan ekonomi mereka berada dibawah kita. Ini yang akan menjadi penyemangat kita, supaya kita tidak putus asa dan mendorong kita untuk terus berusaha dan berdoa.


Kedua, jangan jauh dari ulama dan shalihin. Dekatilah mereka, ambillah saran-saran dari mereka, ikutilah jejak-jejak mereka untuk menambah bekal agar kehidupan berumah tangga semakin harmonis.


Ketiga, jangan lupa kita berdoa dengan doa yang diberikan Rasulullah kepada sahabat Beliau, Anas Bin Malik yang mencakup tiga hal. Pertama, minta diberkahi umurnya. Kedua, minta diberkahi kehidupan dunia. Ketiga diberkahi putra-putri kita.


Doanya,”Allahumma bariklana fii umrina, wa fi rizqina, wa fi awladina,” Ya Allah berkahilah umur kami, rizqi kami dan putra-putri kami.” Insya Allah, kalau mendapat itu semuanya, anak kita banyak ataupun sedikit, tidak satupun yang mentah, sebab mereka dijadikan hamba Allah yang berguna di dunia dan di akhirat dan tidak akan menarik fitnah kepada kedua orang tuanya dihadapan Allah SWT kelak.


Kutipan Tanya Jawab oleh Habib Luthfi bin Yahya dalam rubrik Al Kisah


🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸

IG : @darulhasyimijogja

🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸


اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه اجمعين⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Selasa, 08 Juni 2021

Pemasangan Kusen Jendela Masjid al Akbar - PPSA News & Media

Manjahbereum, 8 Juni 2021 - PPSA News & Media

Tahun ke 2 pandemi di Negri ini beserta Dunia telah kita lalui bersama, namyn semangat ibadah tetap tidak boleh kendor, hal ini yang terus di sampaikan oleh Syaikh Arif selaku Pendiri sekaligus Pimpinan / Pengasuh Ponpes Suryamedar an Nahdliyah  yang berlokasi di Kampung Manjahbereum, ia beserta sahabat - sahabatnya tetap meningkatkan semangat didalam pembangunan Ponpes tersebut yang saat ini masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, pada kesempatan kali ini sedang melanjutkan pemasangan kusen jendela tahap 2, dahulu tahap pertamanya pemasangan kusen pintu dan daun pintunya. 



Ia menjelaskan bahwa dimasa pandemi ini sahabat - sahabat tetap semangat didalam ikut serta andil didalam pembangunan. 

Senin, 07 Juni 2021

Gus Nif "ORANG BAIK" ITU BANYAK TEMAN, TETAPI "PENYERU KEBAIKAN" AKAN BANYAK MUSUH - PPSA News & Media

 *"ORANG BAIK" ITU BANYAK TEMAN,  TETAPI "PENYERU KEBAIKAN" AKAN BANYAK MUSUH* 

_Imam Ibnu Qudamah pernah ditanya, *"Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)?"*_

Beliau menjawab:

 *الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.*

_1.Orang Baik (Shalih), melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain._

*الصالح  تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .*

_2. Orang Baik, dicintai manusia, Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia._

Beliau ditanya lagi oleh muridnya, *"Kenapa demikian?"*

Jawabnya:

*الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه  لأنه صالح .*

_Rasulullah sebelum diutus sebagai Rasul, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik._

*ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.*

_Namun ketika Allah ta'ala mengutus nya sebagai Penyeru Kebaikan, kaum nya langsung memusuhinya dengan menggelarinya sebagai Tukang sihir, Pendusta, Gila, dll._

Ibnu Qudamah kemudian menambah kan:

 *لأن المصلح يصطدم بصخرة* 

*أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم*

*_Karena Penyeru Kebaikan 'menyikat' batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan._*

_Itulah sebabnya kenapa Luqman al Hakim menasihati anaknya agar *BERSABAR* ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan. Disebutkan dalam Al Quran:_

*يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك.* 

_"(Lukman berkata) Hai anakku tegakkan shalat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabar lah atas apa yang menimpamu."_

*Berkata Ahlul Ilmi:*

*مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين.*

_"Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik (yang tidak menyerukan kebaikkan)."_

*_Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah menjaga umat ini. Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri._*

_Maka marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi penyeru kebaikkan._

Minggu, 06 Juni 2021

Wasiat Abah Guru Sekumpul tengan Anak - PPSA News & Media

 Wasiat Abah Guru Sekumpul tentang anak

.

1. JANGAN SERING DIBUAT MENANGIS.

Karena kalau anak itu sering menangis atau sedih, otaknya akan sempit ( tidak mau pintar ) buatlah dia ( anak anak kita ) selalu gembira.

.

2. ANAK KECIL ITU SEPERTI WALI ( tidak pernah berbuat berdosa )

Lalu kenapa dia ( anak anak kita ) sering sakit ...???

Sebab dia memikul dosa orang tuanya ( ayah dan ibu ) yang belum bertaubat kepada Allah SWT.

Sebaiknya kita perbanyak taubat kepada Allah SWT dan banyak banyak mengingat Allah SWT ( Istighfar )

.

3. JANGAN SERING DIPUJI DENGAN PUJIAN YANG BERLEBIHAN.

Karena kalau sering di puji akan membuat anak kita akan menjadi sombong atau besar kepala.



4. INGIN MENJADIKAN ANAK KITA MENJADI ORANG YANG ALIM ...

( sholeh dan sholehah ) usahakan ...

1.Carilah pekerjaan yg halal ( berkah ) ...

2.Arahkan anak-anak ke sekolah agama

Carikan guru yang jelas ( faseh ) karena anak anak kita tentunya akan mengikuti gurunya

3.Jagalah makanannya yg benar-benar halal

4.Carikan pergaulan dg teman-teman yg baik

.

5.Kenalkan dan cintakan serta bawa anak-anak kita ke orang-orang sholeh/alim

Dan semoga kita dan anak keturunan kita menjadi anak anak yang alim, sholeh dan sholehah dikumpukan di akhirat bersama Nabi dan keluarganya

Aaamiin


6. Kira Doakan Terus Menerus Dengan Doa yang Baik-baik

"Mudahmudahan jadi anak yang sholeh sambil bertawasshul kepada wali-wali dengan berkat wali mudahan anakku jadi wali.


Bersyukur kepada Allah dengan membaca:


اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبّ الْعَالَمِيْن

"Abah Guru Sekumpul telah banyak memberikan Amalan-amalan tentang hal-hal Kebaikan kepada kita semua.


اللّهم صلّ و سلّم و بارك علي سيّدنا محمّد النّبيّ الامّيّ وعل اله و صحبه و سلّم


Semoga kita termasuk orang-orang yang mau mengamalkan apa yang telah di wasiatkan oleh Guru Sekumpul dan semoga anak turun kita akan menjadi anak-anak yang alim, sholeh dan sholehah yang kelak akan dikumpukan di akhirat bersama Rasulullah SAW, Para ulama’ dan auliya’.


امين يارب العالمين

Aamiin Allahumma Aamiin

Sabtu, 05 Juni 2021

Ponpes Suryamedar an Nahdliyyah kembali adakan Rutinan Ahad Siang - PPSA News

 Bandung, PPSA News

Libur telah usai libur telah usai...

Itulah sepenggal kalimat lagu anak - anak TK ketika musim liburan telah selesai, namun ini bukanlah sekedar nyanyian belaka karena merupakan pemberitahuan dari KR. Mohamad Arif Nujaba atau biasa disapa Syaikh Arif, beliau selaku pelayan majlis rutinan Ahad Siang Ponpes Suryamedar An Nahdliyyah yang dipimpinnya, "Setelah liburan Idul Fitri 1442 maka Ahad sekarang kita mulai rutinan mingguan lagi, kegiatan tersebut terbuka untuk umum laki - laki dan perempuan, serta wajib mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, membawa seperangkat alat sholat masing - masing dan dawam wudhu, serta jika ada jama'ah yang memiliki gejala covid cukup mengikuti melaui pengeras suara atau media online." tutur Syaikh Arif

Rutinan Ahad Siang ini dimulai setelah menunaikan sholat Dzuhur berjamaah kemudian Tadarusan al Qur'an, Tawashul, Yaasin, Sholawat Thoriqoh, Pengajian kitab al Adzkar dan tambahan sedikit nasehat atau kisah, kemudian ditutup dengan Wirid Khotaman Khowajikan Thoriqoh Naqsyabandiyah 'Aliyah al Haqqani, Syaikh Arif menjelaskan bahwa dulu beliau mendapat ijasah kitab al Adzkar dari Romo KHR. Abdussalam ra. yang merupakan Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah al Kholidiyah, sementara dalam Thoriqoh Naqsyabandiyah al Haqqani beliau mendapat bimbingan dari Pangeursa Mursyid Asy Syaikh KHQ. Ahmad Syahid ra. dan berbai'at kepada Mawalana Syaikh Hisyam Kabbani sebanyak 3 (tiga) kali. 
Rutinan tersebut juga bertujuan dalam rangka terus mengamalkan apa yang telah didapat dari para guru yang telah mendahului menghadap kehadirat Allah SWT. juga sebagai rasa terima kasih kepada para guru. 


Jumat, 04 Juni 2021

Pesantren Suryamedar adakan Rutinan Dzikrulloh setiap Sabtu Kliwon - PPSA News

 Manjahbereum, PPSA News & Channel


Romadhon telah usai, kitapun kembali beraktifitas seperti biasa, tak berbeda dengan kegiatan di Pondok Pesantren Suryamedar an Nahdliyyah (PPSA) yang merupakan salahsatu kegiatan pokok Pesantren Suryamedar yaitu berupa Rutinan Dzikrulloh dan Pengajian Umum yang diselenggarakan setiap hari Sabtu Kliwon dimulai pukul 07.00 hingga pukul 10.00 WIB, berdasarkan penuturan dari KR. Mohamad Arif Nujaba atau yang sering disapa Syaikh Arif selaku pendiri sekaligus Pimpinan Pesantren Suryamedar bahwa rutinan ini diselenggarakan atas dasar tasyakur binikmat, "Dahulu Rasuulullah SAW mengadakan tasyakur dihari kelahirannya dengan berpuasa, kalo saya terkadang agak sulit untuk berpuasa dihari-hari biasa maka diselenggarakanlah acara Dzikrulloh dan Pengajian Umum ini sebagai rasa syukur pada Allah SWT, dan akan saya ajak semua teman dan siapapun yang saya kenal agar senantiasa bisa menghadiri acara ini, harapannya ialah agar kelak kita saling bersaksi dihadapan Allah SWT dengan kesaksian yang baik, contohnya kelak kita (serunya pada jamaah yang hadir. red) akan ditanya "Yaa Syaikh Arif, apakah kamu kenal dengan ibu ini? maka saya akan menjawab "Kenal yaa Rabb, beliau selalu hadir dalam pengajian sabtu kliwonan." mudah-mudahan dengan begini kita saling bersaksi dengan kesaksian yang menjadikan kita masuk kedalam surgaNya."

Pada rutinan yang masih dalam suasana Idul Fitri 1442 H ini Syaikh Arif atasnama pribadi dan keluarga juga menyampaikan permohonan maaf kepada jama'ah serta berharap agar segala ibadah yang telah dilaksanakan selama bulan romadhon betul - betul dapat meningkatkan ketaqwaan pada Allah SWT.

Hadir juga pada kesempatan tersebut al Mukarom Ustadz Ali yang merupakan sahabat Syaikh Arif yang sama - sama memiliki jadwal khotbah di Masjid Baiturrahman Manjahbereum Desa Cileunyi Wetan, beliau dimintai untuk memberikan nasehat khususnya bagi Syaikh Arif juga jamaah yang hadir, adapun nasehat yang beliau sampaikan ialah "Kita harus terus mengingat ingat dua hal, yaitu Al Quran dan Kematian, karena Al Quran merupakan salahsatu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang bila kita membacanya saja mendapat pahala, juga harus senantiasa mengingat  kematian karena setiap yang bernyawa pasti akan mati." 

FADHILAH AIR BEKAS WUDHU - PPSA Online

 PPSA - Online

[🍃`Guru Sekumpul Martapura


FADHILAH AIR BEKAS WUDHU


(Ijazah untuk memiliki keturunan).


➡ Kata Abah Guru Sekumpul: "Kalau ada seorang Isteri yang belum mempunyai keturunan, suruh isteri tadi minum air bekas wudhu suaminya, Insya Allah cepat mempunyai keturunan. dan apabila ada seorang isteri yang berani kepada suaminya, sering marah kepada suaminya, suruh isteri itu minum air bekas wudhu, Insya Allah isteri itu akan bakti dan tho'at kepada suaminya.


➡️Kata abah Haji (guru Zuhdi): "Berwudhu itu menggugurkan dosa. air bekas wudhu itu obat segala penyakit. jadi siapapun yang ada penyakit seperti sakit perut atau yang lainnya, minum air bekas wudhu kita itu, Insya Allah akan sembuh karena air bekas wudhu itu obat segala penyakit.


➡️Kata abah (H.AbdurRahman): "Kata almarhum guru disekumpul "Air bekas wudhu seorang ibu insya Allah bisa menjadikan seorang anak menjadi cerdas. Kalau ada seorang anak yang nakal atau lambat faham dalam suatu pelajaran, suruh anak itu minum air bekas wudhu ibunya, Insya Allah anak itu jadi cerdas dan cepat faham dalam suatu pelajaran.



Semoga kita bisa mengamalkannya. Mudah2an kita semua lantaran Rasulullah Saw, dosa2 kita semua diampuni oleh Allah SWT. 

Berkat Waliyullah, qobul segala hajat selamat dunia akhirat, mati dalam keadaan Husnul Khatimah dan masuk surga bighoiri hisaab, terkumpul didalam surga bersama Rasulullah, Datu Kalampayan, alhm. Guru disekumpul dan semua para auliya Allah Aamiin

-


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

Kamis, 03 Juni 2021

Adakalanya yang masih hidup kalah oleh yang sudah wafat - PPSA MEDIA

Bandung, PPSA Media

Peningkatan ilmu tauhid sangat diperlukan oleh setiap mukmin agar ketaqwaannya dapat terus bertambah, berbagai metode pengajaran atau dakwahpun sangat berfariasi, semuanya tidak terlepas dari latarbelakang sang da'i atau kyai yang membimbingnya. 


Syaikh Arif, panggilan akrab untuk R. Mohamad Arif Nujaba selaku pimpinan Ponpes Suryamedar an Nahdliyah juga pengasuh dibeberapa majelis dzikir diantaranya yang bertempat di Masjid At Taubah - Jl  Babakansari III RW 15 Kiaracondong Bandung, majelis rutinan ditempat tersebut diadakan setiap malam selasa ba'da isya. "Pada mulanya dulu diadakan pada setiap Ahad pagi, namun atas usulan dari beberapa jama'ah juga DKM masjid tersebut akhirnya dirubah menjadi malam selasa, rutinan ini dulunya atas ide almarhum mas Gunawan yang merupakan sahabat kami di BANSER, berawal ketika kami sering berkunjung ke kediaman beliau yang berdampingan dengan masjid at taubah, agar lebih berkah ketika berkunjung maka diadakan rutinan malam selasa, namun beliau telah mendahului kami menghadap kepadanya." tuturnya.

Rutinan majlis tersebut di awali dengan pembacaan Syair Tanpa Wathon yang sering juga disenandungkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur), kemudian tawashul, pembacaan QS Yaasiin, kajian kitab al Adzkar dan ditutup dengan Dzikir Khotaman Khowajikan Thoriqoh Naqsyabandiyah, pada senin Senin 31 Mei atau malam selasa kemarin Syaikh Arif sedikit menambahkan materi kajiannya berupa nasehat dan hikmah, beliau berkata "Adakalanya kita yang masih hidup kalah oleh yang sudah wafat didalam mengadakan majelis dzikir, contoh : majelis seperti ini terkadang hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, tapi kalo majelis dzikir dalam rangka tahlil dan doa untuk yang sudah wafat seperti setiap malam sampai hari ke tujuh dari kematiannya, kemudian hari ke 40, 100 atau bahkan haul seseorang yang sudah wafat biasanya yang hadir itu banyak, sampai penuh, tapi sungguh sangat beruntung kita sebagai penganut akidah ahlussunnah wal jama'ah, yang salahsatu amaliahnya ialah tahlil dan doa bagi yang sudah wafat, jadi semua yang berakudah ahlussunah wal jama'ah pasti punya wirid khusus, walau sebatas mengadakan majelis dzikir setelah wafat." 

Beliau juga sangat menganjurkan agar setiap jamaah untuk senantiasa mengaji / mempelajari kitab al adzkar karena sangat penting bagi yang sedang terus meningkatkan ketaqwaan pada Allah SWT, Syaikh Arif juga menceritakan bahwa dahulu ia mendapat ijasah kitab tersebut dari Romo KHR Abdussalam Sokaraja Banyumas. 

Rabu, 02 Juni 2021

Nderek Dawuh Abah Luthfi

Bandung, PPSA NEWS

Pondok Pesantren merupakan salahsatu solusi didalam mencetak generasi yang bertaqwa sehingga mampu menjadi pribadi yang membawa rahmat bagi alam semesta.

Suryamedar an Nahdliyyah, mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut agak asing bagi nama sebuah Pondok Pesantren, karena pada umumnya nama yang dipergunakan mayoritas dengan bahasa arab, namun Syaikh Arif (Rasno Mohammad Arif) selaku pendiri dan pimpinan Ponpes Suryamedar an Nahdliyyah memilih nama ini karena merupakan pemberian dari gurunya yaitu Kh. Buya Royanudin AS di sukabumi beberapa tahun yang lalu sewaktu beliau khidmat disana. 


Ditengah himpitan pandemi Covid 19 yang belum juga usai Syaikh Arif tetap semangat didalam melaksanakan progres pembangunan pondok ini, tampak pada pagi ini ia dengan menggunakan kaos BANSER sedang merakit besi dengan dikerjakan sendiri, beliau menuturkan : "Biasanya kalo sedang ada buat upah kerja tentu dikerjakan oleh yang lebih ahli, tapi kalo untuk pekerjaan yang ringan - ringan kan bisa sendiri, sambil menanti rizki dari Allah yang lebih banyak, yang penting pembangunan ini terus berjalan, salahsatu alasannya ialah dawuh Mawlana Sayyidil Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pekalongan yang merupakan salahsatu guru panutan kami,  beliau pernah memberikan nasehat dimalam 20 romadhon 1440 H  "Nyieun pondok teu meunang ereun, hiji dua bata tapelkeun" (Membangun Pondok jangan sampai berhenti, satu atau dua bata terapkan), beliaupun mengijasahkan kitab Tanwirul Qulub sebagai salahsatu rujukan bagi para pengamal thoriqoh naqsyabandiyah, motifasi ini yang terus saya pegang hingga datang ajal nanti." 

Beliau menceritakan bahwa lahan pondok seluas 1423 meter ini merupakan wakaf dari almarhumah ibu hj. Tati Ratna Mulia juga sebagian besar dana untuk pembangunannya juga dari suami beserta anak-anak almarhumah, namun tidak sedikit sahabat-sahabat lainnya baik yang selalu hadir ke pengajian rutinnya atau hanya sekedar ikut andil dalam pembangunan. 

Tanpa Proposal

Syaikh Arif juga menjelaskan bahwa sejak awal pembangunan Ponpes tersebut tanpa pembuatan proposal, "Pada awalnya memang pernah membuat proposal itupun sekedar untuk membuat profil dan perencanaan agar mudah untuk menjelaskan maksud dan tujuan kepada masyarakat umum, bukan untuk penggalangan dana, kami tidak terbiasa dengan pembuatan proposal, namun kami senantiasa bermunajat pada Allah SWT agar pembangunan ini dimudahkan dan bagi yang ikut andil senantiasa dilipat gandakan pahalanya serta mendapat balasan yang terbaik didunia maupun akherat." ..

Kamis, 04 Januari 2018

Syaikh Arif ikuti Diklatsar Banser NU

Pasir jambu, SP
Pimpinan Pesantren Suryamedar R. Mohamad Arif Mujaba atau yang biasa disapa Syaikh Arif akhirnya bisa mengikuti Diklatsar Banser NU yang di adakan oleh PC Banser Kabupaten Bandung dan PC GP Ansor Kabupaten Bandung. Beliau mengatakan "Sudah lama ingin mengikuti Diklatsar Banser tetapi baru kali ini berkesempatan menjadi peserta.
Sepulang dari kegiatan ini ia berharap bisa lebih maksimal lagi dalam khidmah pada ummat sayyidina muhammad SAW khususnya para ulama dan bisa lebih maksimal lagi didalam menjaga keutuhan NKRI. Ia juga akan menerapkan beberapa keilmuan yang diperoleh selama diklatsar menjadi kurikulum wajib bagi setiap santri Pesantren Suryamedar.

Muludan Agung 1439H & Milad ke 4

Cileunyi, SP
Pesantren Suryamedar kembali menyelenggarakan Tabligh Akbar dalam rangka Muludan Agung 1439H & Milad ke 4, acara yang di adakan tgl 19 November 2017 ini rencananya akan di hadiri oleh Mawlana al Habib Lutfi bin Yahya namun karena ada beberapa agenda dadakan yang tidak bisa beliau tinggalkan akhirnya beliau tidak hadir pada acara ini, namun beliau menyampaikan suatu saat akan mampir ke Pesantren Suryamedar.

Rabu, 06 September 2017

Saya Ikut!

Bandung, MS
Pesantren Suryamedar luncurkan program "SAYA IKUT!", menurut Syaikh Arif (Pimpinan Pesantren Suryamedar) menyebutkan bahwa program ini terinspirasi dari Mbah Abdul Malik Sokaraja, beliau merupakan kerabat dekat dari salah seorang guru beliau yang juga berdomisili di Sokaraja Banyumas yaitu KHR. Abdussalam, darinya ia banyak mendapat pelajaran yang sangat bermanfaat bagi Pesantren Suryamedar.
Melalui program "SAYA IKUT" ia juga berharap agar dapat memfasilitasi semua jamaah / santri juga masyarakat secara luas untuk ikut serta dalam perjuangannya membangun Pesantren ini.
"SAYA IKUT" ialah satu bentuk ajakan untuk bersama - sama mengamalkan sebagian rizki dan tenaganya untuk kemakmuran Pesantren Suryamedar.

Di antara penggunaan dana yang terkumpul dari program ini ialah : 
- "SAYA IKUT" bangun Masjid 
- "SAYA IKUT" bangun Pondok
- "SAYA IKUT" bangun Madrasah
- "SAYA IKUT" memakmurkan Pesantren

Bagi muslimin wal muslimat bisa mengikuti program "SAYA IKUT" ini dengan menyalurkan sebagian hartanya melalui Rekening Bank Mandiri No. 131.00.141.9886-7 a/n : PESANTREN SURYAMEDAR 


Jumat, 02 Juni 2017

Pengajian Rutin Majlis al 'Arifiyah wal Muhibbiin

Assalamu'alaikum wr wbr
Dalam rangka mendekatkan diri pada Allah swt, al Fakir ila roja'i maghfirotillah syaikh mohamad arif selaku pelayan Majlis al 'arifiyah wal muhibbiin - Pesantren Suryamedar, mengharap kehadiran muslimin wal muslimat pada Pengajian Rutin yang diselenggarakan pada :
Hari       : Minggu
Waktu   : Ba'da Dzuhur
Tempat : Pesantren Suryamedar
                Kp. Manjahbereum RT02/04, ds. Cileunyi Kulon, kec. Cileunyi, kab. Bandung
Info       : 085624364113
Donasi  : (Zakat, Infaq, Shodaqoh) untuk Pembangunan & Memakmurkan bisa melalui Rek. Mandiri No 131.00.141.9886-7 a/n Pesantren Suryamedar

Syekh Bahauddin Naqsyabandy

Syekh Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari QS (Syech Naqsyabandy)
Kidung subuh sang merpati hutan, haru sendu membirukan Air mataku membangunkan lelapnya, tidurku pun tergugah tangisnyaTak saling kami mengerti, tatkala saling mengeluhkanTetapi ku tahu duka hatinya dan dukaku pun telah dipahaminya
Abul-Hasan an-Nuri
Syaikh Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari QS (Syech Naqsyabandy) Dilahirkan di Qashrul ‘Arifan, Bukhara, Uzbekistan tanggal 15 Muharram tahun tahun 717 H atau tahun 1317 M. Syekh Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan kelahirannya disertai oleh kejadian yang aneh. Menurut satu riwayat, jauh sebelum tiba waktu kelahirannya sudah ada tanda- tanda aneh yaitu bau harum semerbak di desa kelahirannya itu. Bau harum itu tercium ketika rombongan Syekh Muhammad Baba As Samasi q.s. (silsilah ke- 13), seorang wali besar dari Sammas (sekitar 4 km dari Bukharah), bersama pengikutnya melewati desa tersebut. Ketika itu As Samasi berkata, “Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki- laki yang akan lahir di desa ini”. Sekitar tiga hari sebelum Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.
Setelah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi yang menerimanya dengan gembira. As Samasi berkata, “Ini adalah anakku, dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya”. Naqsyabandi rajin menuntut ilmu dan dengan senang hati menekuni tasawuf. Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan  belajar di situ sampai gurunya (Syekh As Samasi) wafat. Sebelum Syekh As Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai  khalifahnya. Setelah gurunya wafat,  dia pergi ke Samarkand, kemudian pulang ke Bukhara, setelah itu pulang ke desa tempat kelahirannya. Setelah belajar dengan Syekh Baba As Samasi (silsilah ke 13), Naqsyabandi belajar ilmu tarikat kepada seorang wali quthub di Nasyaf, yaitu Syekh As Sayyid Amir Kulal q.s. (silsilah ke- 14).
Syekh Naqsyabandi pernah bertemu secara rohani dengan Syekh Abdul Khaliq Fadjuani dan di ajarkan zikir khafi serta suluk, Sejak masa Syaikh Arif Ar Riwikari sampai Syekh Amir Kulal zikir/tawajuh bersama dilakukan secara zahar akan tetapi kalau zikir sendiri secara khafi, Syekh Naqsyabandi tidak pernah ikut ertawajuh dengan Syekh Amir Kullal yang zikir bersama secara zahar, hal ini menimbulkan prasangka buruk pada murid murid gurunya yang tidak mengerti duduk persoalan. Akan tetapi  Syekh Amir Kullal justru bertambah sayang dan cinta kepada Syekh Naqsyabandi.  Suatu hari Syekh Bahauddin di panggil oleh Gurunya dan berkata, “ Duuh putraku Bahauddin, kebetulan sekali pada waktu ini saudara saudara kita terutama para Khalifahku sedang berkumpul, aku akan berkata kepadamu, supaya disaksikan oleh para hadirin: Bahauddin! Supaya engkau tahu, bersamaan hidmahmu disini, Alhamdulillah aku telah melaksanakan wasiat guruku alhmarhum Syekh Muhammad Baba (lalu Syekh Amir Kullal memberi isyarat pada susunya), dan berkata kepadanya: Engkau telah meneteki susu pendidikanku ini sampai kering, tetapi wadahmu terlalu besar dan persiapanmu sangat kuat, maka itu aku telah mengizinkan kepadamu supaya meninggalkan tempat ini untuk mencari beberapa guru supaya kamu menambah beberapa faedah yang perlu dari mereka dan faidan nur (Keluberan Nur Ilahi) yang selaras dengan cita citamu yang agung itu. Aku hanya bisa memberi ancar ancar carilah guru dari tanah Tajik dan dari tanah Turki”.
Setelah meminta izin dari Syekh Amir Kulal selanjutnya Syekh Naqsyabandi berguru kepada Syekh ‘Arifuddin Karoni selama tujuh tahun, kemudian berguru kepada Maulana Qatsam selama dua tahun terkahir kepada Syekh Darwisy Khalil dari Turki selama dua belas tahun.  Syekh Naqsyabandi telah melaksanakan titah gurunya (Syekh Amir Khulal) demikian juga fatwa-fatwa dari Syekh Abdul Khaliq Fadjuani untuk memperdalam ilmu-ilmu syariat secara mendalam sehingga sempurnalah ilmu yang Beliau peroleh.  Syekh Bahauddin pernah menyanjung ilmu tarekatnya dengan ucapan “Permulaan pelajaran Tarikatku akhir dari pelajaran semua tarekat”.
Al Qutub, Auliya Allah, Penasehat Utama Sultan Khalil di Samarqan,  fatwa-fatwanya menjadi rujukan Hakim-Hakim Agung dalam memutuskan perkara. Karena kebesaran namanya, Tarekat yang di pimpinnya tersebar dengan cepat dan termashur serta memiliki pengikut yang sangat banyak dan tersebar ke seluruh dunia.
Beliau meletakkan dasar-dasar zikir qalbi yang sirri, zikir batin qalbi yang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnian ibadat semata-mata lillahi ta’ala, tergambar dalam do’a beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya “Ilahi anta makshuudi waridlaaka mathluubi”. secara murni meneruskan ibadat Tratiwatus Sirriyah zaman Rasulullah, Thariqatul Ubudiyyah zaman Abu Bakar Siddiq dan Thariqatus Siddiqiyah zaman Salman al-Farisi. Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdal, yang amat tinggi hakikat dan marifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10 (sepuluh) hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan ada suluk yang teguh.  Syekh Naqsyabandy  wafat pada malam Senin Tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 791 H dalam usia 74 tahun.
Syekh Naqsyabandi meninggalkan banyak penerus, yang paling terhormat di antara mereka adalah Syekh Muhammad bin Muhammad Alauddin al-Khwarazmi al-Bukhari al-Attar q.s  dan Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mahmoud al-Hafizi q.s, yang dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis Risalah Qudsiyyah. Kepada yang pertamalah Syekh Naqsyabdi meneruskan Ilmunya dan menjadi Ahli Silsilah ke-16

Sabtu, 28 Maret 2015

Berdagang dan Berdakwah

Rasulullah s.a.w. menyerukan supaya kita berdagang. Anjuran ini garis-garis ketentuannya diperkuat dengan sabda, perbuatan dan taqrirnya.

Dalam beberapa perkataannya yang sangat bijaksana itu kita dapat mendengarkan sebagai berikut:

"Pedagang yang beramanat dan dapat dipercaya, akan bersama orang-orang yang mati syahid nanti di hari kiamat." (Riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim)

"Pedagang yang dapat dipercaya dan beramanat, akan bersama para Nabi, orang-orang yang dapat dipercaya dan orang-orang yang mati syahid." (Riwayat al-Hakim dan Tarmizi dengan sanad hasan)

Kita tidak heran kalau Rasulullah menyejajarkan kedudukan pedagang yang dapat dipercaya dengan kedudukan seorang mujahid dan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, sebab sebagaimana kita ketahui dalam percaturan hidup, bahwa apa yang disebut jihad bukan hanya terbatas dalam medan perang semata-mata tetapi meliputi lapangan ekonomi juga.

Umat Islam ini kekuatannya adalah berusaha, tanpa usahawan-usahawan yang baik, siapa yang akan membayar zakat, infak dan sedekah, untuk membiayai dakwah ini. Kalau yang berusaha lebih banyak nonmuslim, tentu mereka tidak akan keluarkan zakat. Jadi perlu ditumbuhkan banyak pembayar zakat. Itu juga bagian dari dakwah. Sejarah Rasulullah dimulai dari seorang pengusaha, Siti Khadijah juga pengusaha, dan pada dasarnya Islam datang dari Arab itu bukan dibawa oleh ulama. Islam dibawa oleh para pedagang. Bukan pula para dai yang membawa ajaran Islam ke Indonesia tetapi para pedagang, saudagar.

Kita semua menyadari bahwa tanpa peningkatan pendidikan, umat Islam akan selalu ketinggalan. Pemerintah tentu selalu berusaha meningkatkan pendidikan untuk seluruh bangsa. Apabila kita berbicara seluruh bangsa itu berarti 85% umat Islam yang akan ditingkatkan pendidikannya. Akan tetapi itu belum cukup tanpa partisipasi kita semua khususnya umat Islam. Apalagi upaya-upaya yang lainnya seperti dakwah. Dakwah adalah upaya meningkatkan keimanan, pengetahuan, dan kecintaan kita terhadap Allah SWT.

Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup abadi; Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kami akan mati besok. Begitu untaian bijak yang disinyalir diungkap Sayyidina Ali ibn Abu Thalib RA beberapa abad lalu. Intinya: perimbangan mencari urusan dunia (kerja, usaha, bisnis) dan akhirat (kebaikan, pahala).

Abdurrahman ibn ‘Auf adalah seorang Sahabat Rasulullah SAW yang sangat piawai berdagang. Setiap kali pulang berdagang, pasti membawa keuntungan berlimpah. Masyarakat Madinah menyambut sukacita kedatangan tokoh Sahabat itu.

Suatu ketika, Abdurrahman membawa pulang 700 ekor unta penuh muatan hasil keuntungan berdagang. Tapi Ummul Mukminin Aisyah RA malah terlihat murung seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia berkata mendengar Rasulullah pernah bermimpi melihat Abdurrahman masuk surga dengan cara merangkak.

Mendengar peringatan itu, sontak Abdurrahman segara membagi-bagikan seluruh muatan 700 unta yang dibawanya kepada masyarakat Madinah. Khususnya kalangan yang membutuhkan dan fakir miskin. Pernah pula ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk digunakan pasukan kaum muslimin berperang. Di lain waktu ia hibahkan 1500 ekor unta.

Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, pernah memberikan seluruh kekayaan miliknya hasil berdagang untuk kepentingan perjuangan Islam. Begitupula Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan dan lainnya. Benarlah sabda Rasulullah, “Sungguh beruntung harta dan jabatan yang berada di tangan orang-orang shalih.”

Bagi sebagian kalangan yang berangapan bahwa dakwah dan dagang itu terpisah, artinya kurang pmahaman, kita bisa mngkaji sunnah Rosulullah dimana berdagang itu untuk menopang dakwah, apalagi soal keilmuan dan sumber daya, gak mungkin kia ni ngandelin donasi sdekah jamaah terus, atau minta2 dipinggir jalan dsb kalau semuanya memiliki kesadaran akan hal ini, banyak diantara rekan yg salah menyikapi soal pondok jualan susu, padahal dananya akan dialokasikan untuk operasional pesanren, penghafal Qur'an, larinye juga ke ustadz-ustadz yg begitu banyak, prasarana dst. Malahan kalo diantara jamaah yg ikutan promoin produk pesantran yg udah ketara jelas, ke rekanan lain, Insya Allah ada pahalanya tuh, ikutan majuin dakwah, ikutan andil dalam pergerakan majunya sumber daya Islam di tanah air.

Jumat, 27 Maret 2015

Pesantren Suryamedar menerima Hibah

Bandung S-Info, kamis sore tanggal 12 Maret 2015 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Ust. Rasno Mohamad Arif atau sering disapa Kang Arif, saat itu ia berkunjung ke salah seorang sahabat lamanya yang bernama Prof. Dr. Ir. H. Ramdhon Bermanakusumah, M.Sc yang merupakan pensiunan Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, dari hasil silaturahmi ke rumahnya tersebut yang memang sudah hampir 5 tahun tidak perneh bertemu ternyata membawa berkah bagi beliau dan khususnya bagi Pesantren Suryamedar.
Keesokan harinya ia diminta untuk berkunjung lagi kerumahnya pada esok harinya, setelah usai sholat jum'at, akhirnya pembicaraan beberaha hal pun dapat terlaksana, hingga hampir magrib akhirnya ditutup untuk menunaikan sholat magrib bersama dirumahnya, sebelum sholat magrib Kang Arif di ajak untuk menemui istri belliau yang saat itu sedang sakit, kemudian singkat waktu pembicaraanpun dilanjut setelah sholat magrib, dengan tidak ada harapan secuilpun di hati akhirnya dengan spontan istri beliau / Hj. Ratnamulia berniat menghibahkan sebagian tanahnya yang berlokasi di cileunyi untuk diserahkan pada kang Arif, kemudian kang arifpun menerimanya dan akan dipergunakan untuk pembangunan Pondok Pesantren Suryamedar.
Tanah seluas 1.423 meter tersebut sekarang sedang dalam proses pembangunan Ponpes Suryamedar. 

Bersentuhan dengan istri batalkah wudhunya?

Pertanyaan:
Bagaimana hukum bersentuhan dengan istri setelah berwudhu. Apakah membatalkan wudhu?

Jawaban:
Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini, ada berbagai pendapat yang cukup banyak. (Lihat al-Majmu’ 2:34 Imam Nawawi). Di sini kami akan sebutkan tiga pendapat saja :
Pendapat Pertama: 
Menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak, tetapi kalau ada pembatasnya seperti kain, maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini populer dalam madzhab Syafi’i. Pendapat berlandaskan dengan berbagai argumen, yang paling masyhur dan kuat adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 43.
أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ
“Atau kamu telah berjima’ dengan istri.” (QS. An-Nisa’: 43).
Mereka mengartikan kata لاَمَسْتُمُ dalam ayat tersebut dengan menyentuh. (Lihat al-Umm 1:30 oleh Imam Syafi’i dan al-Majmu’ 2:35 oleh Imam Nawawi).

Pendapat Kedua: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan beberapa dalil berikut:
Dalil Pertama:
Ketika seseorang berwudhu, maka hukum wudhunya itu hukum asalnya suci dan tidak batal sehingga ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asalnya. Dalam hal ini, pembatal itu tidak ada, padahal kita ketahui bersama bahwa menyentuh isteri adalah suatu hal yang amat sering terjadi. Seandainya itu membatalkan wudhu, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan kepada umatnya dan masyhur di kalangan sahabat, tetapi tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang berwudhu hanya karena sekedar menyentuh istrinya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21:235).
Dalil Kedua:
Dari Aisyah d bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi. Saya (Urwah) berkata: Tidaklah dia kecuali Anda kan? Lalu Aisyah tertawa. (Shahih. Riwayat Tirmidzi: 86, Abu Dawud: 178, Nasa’i: 170, Ibnu Majah: 502 dan dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah: 323. Lihat pembelaan hadis ini secara luas dalam at-Tamhid 8:504 Ibnu Abdil Barr dan Syarh Tirmidzi 1:135-138 Syaikh Ahmad Syakir).
Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu sekalipun dengan syahwat. Demikian ditegaskan oleh Syaikh al-Allamah as-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Nasa’i 1:104.
Dalil Ketiga:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Saya pernah tidur di depan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, maka beliau menyentuhku lalu saya pun mengangkat kedua kakiku, dan bila beliau berdiri, maka aku membentangkan kedua kakiku seperti semula. (Aisyah) berkata: “Rumah-rumah saat itu masih belum punya lampu”. (HR. Bukhari: 382 dan Muslim: 512).
Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1:638 bahwa kejadian di atas bisa jadi karena ada pembatasnya (kain) atau kekhususan bagi Nabi, maka takwil ini sangat jauh sekali dari kebenaran, menyelesihi dhahir hadis dan takalluf (menyusahkan diri). (Periksa Nailul Authar asy-Syaukani 1:187, Subulus Salam as-Shan’ani 1:136, Tuhfatul Ahwadzi al-Mubarakfuri 1:239, Syarh Tirmidzi Ahmad Syakir 1:142).
Dalil Keempat:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidur maka saya mencarinya lalu tanganku mengenai pada kedua punggung kakinya yang tegak, beliau shalat di masjid seraya berdoa: “Ya Allah saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu…”. (HR. Muslim: 486).
Hadis ini menunjukkan bahwa istri menyentuh suami tidaklah membatalkan wudhu. Adapun penjelasan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 4:152 bahwa kejadian tersebut bisa jadi karena ada pembatas kainnya, maka menyelisihi dhahir hadis. (Lihat at-Tamhid 8:501 Ibnu Abdil Barr dan Tafsir al-Qurthubi 5:146).
Dalil Kelima:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sedangkan saya tidur terbentang di depannya layaknya jenazah sehingga apabila beliau ingin melakukan witir, maka beliau menyentuhku dengan kakinya”.
(HR. Nasai 1/102/167. Imam Za’ilai berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat shahih dan dishahihkan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ 2:35).
Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu dengan kaki atau anggota badan lainnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis hal. 48: “Sanadnya shahih, hadis ini dijadikan dalil bahwa makna “Laamastum” dalam ayat adalah jima’ (berhubungan) karena Nabi menyentuh Aisyah dalam shalat lalu beliau tetap melanjutkan (tanpa wudhu lagi -pent)”.

Pendapat Ketiga:
Rincian:
Batal wudhunya apabila menyentuh wanita dengan syahwat, dan tidak batal apabila tidak dengan syahwat. Dalil mereka sama seperti pendapat kedua, tetapi mereka membedakan demikian dengan alasan “Memang asal menyentuh tidak membatalkan wudhu, tetapi menyentuh dengan syahwat menyebabkan keluarnya air madhi dan mani, maka hukumnya membatalkan” (Lihat al-Mughni 1:260 Ibnu Qudamah).
Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua yaitu:
Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat ataupun tidak, kecuali apabila mengeluarkan air mani dan madhi maka batal wudhunya atau minimal adalah pendapat ketiga.
Adapun pendapat pertama, maka sangat lemah sekali karena maksud ayat tersebut adalah jima’ (hubungan suami istri) berdasarkan argumen sebagai berikut:
Salah satu makna kata لَمَسَ dalam bahasa Arab adalah jima’ (al-Qamus al-Mukhith al-Fairuz Abadi 2:259).
Para pakar ahli tafsir telah menafsirkan ayat tersebut dengan jima’ diantaranya adalah sahabat mulia, penafsir ulung yang dido’akan Nabi, Abdullah bin Abbas, demikian pula Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Mujahid, Thawus, Hasan Al-Bashri, Ubaid bin Umair, Said bin Jubair, Sya’bi, Qotadah, Muqatil bi Hayyan dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/550). Pendapat ini juga dikuatkan Syaikh ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 5/102-103 dan Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid.
Mengkompromikan antara ayat tersebut dengan hadis-hadis shahih di atas yang menegaskan bahwa Rasulullah n menyentuh bahkan mencium istrinya (Aisyah) dan beliau tidak berwudhu lagi.
Imam Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid 8:506 dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Talkhis menukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: “Seandainya hadis Aisyah tentang mencium itu shahih, maka madzhab kita adalah hadis Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam”. Perkataan serupa juga dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi, pejuang madzbab Syafi’i. Hal ini menunjukkan bahwa kedua imam tersebut tidak menetapkan bahwa maksud لاَمَسْتُم dalam ayat tersebut bermakna “Menyentuh” karena keduanya menegaskan seandanya hadis Aisyah shahih, maka beliau berdua berpendapat mengikuti hadis. Seandainya kedua imam tersebut berpendapat seperti hadis, maka mau gak mau harus menafsirkan ayat tersebut bermakna “jima” sebagaimana penafsiran yang shahih. (Syarh Tirmidzi 1/141 oleh Syaikh Ahmad Syakir).
Demikianlah jawaban yang kami yakini berdasarkan dalil-dalil yang shahih, bukan fanatik madzhab dan mengikuti apa kata banyak orang. Semoga Allah menambahkan ilmu dan memberikan keteguhan kepada kita. Wallahu A’lam.